sikoracerestia.com -  Bagi para pengguna setia platform berbagi video seperti YouTube, tidak ada yang lebih menguji kesabaran daripada harus menonton iklan berdurasi panjang tanpa opsi untuk melewatinya. Sering kali, kita dipaksa menatap layar selama belasan hingga puluhan detik hanya untuk melanjutkan konten yang ingin kita nikmati. Namun, keresahan ini tampaknya didengar oleh pemerintah Vietnam. Dalam sebuah langkah progresif yang memihak konsumen, otoritas setempat telah mengeluarkan regulasi baru yang secara tegas mengatur tata cara penayangan iklan di platform lintas batas. Mulai tanggal 15 Februari mendatang, lansekap periklanan digital di negara tersebut akan berubah drastis demi kenyamanan penonton.

Baca Juga: Jangan Salah Pilih! Kenali Jenis-Jenis Kertas Percetakan

Berdasarkan laporan terbaru yang mengutip kebijakan pemerintah Vietnam, platform streaming video asing dan media sosial yang beroperasi di negara tersebut wajib menyediakan fitur "lewati iklan" atau skip ad. Aturan ini tidak main-main, karena menetapkan batas waktu yang sangat spesifik dan singkat. Penyedia layanan harus memastikan bahwa pengguna memiliki kendali penuh untuk menutup iklan setidaknya setelah lima atau enam detik penayangan. Artinya, praktik menayangkan iklan berdurasi 15 hingga 30 detik yang tidak bisa dilewati atau unskippable ads akan menjadi pelanggaran hukum di wilayah tersebut. Kebijakan ini jelas menjadi angin segar bagi warganet yang selama ini merasa waktu mereka tersita oleh promosi produk yang tidak mereka inginkan.

Tidak berhenti pada durasi waktu, regulasi baru ini juga menyoroti aspek teknis yang sering kali menjebak pengguna, yaitu keberadaan tombol palsu. Kita tentu pernah mengalami momen menjengkelkan ketika melihat tombol tutup atau tanda silang (X) pada sebuah iklan, namun saat ditekan, tombol tersebut justru mengarahkan kita ke situs web lain atau mengunduh aplikasi yang tidak dikenal. Pemerintah Vietnam secara spesifik melarang praktik manipulatif seperti ini. Tombol untuk mematikan atau melewati iklan haruslah tombol yang nyata dan berfungsi sebagaimana mestinya secara teknis, bukan sekadar hiasan visual yang dirancang untuk menipu klik pengguna. Hal ini menegaskan bahwa transparansi dan kejujuran dalam antarmuka aplikasi menjadi prioritas utama.

Langkah tegas yang diambil oleh Vietnam ini merupakan bagian dari dekrit pemerintah yang mengatur pengelolaan, penyediaan, dan penggunaan layanan internet serta informasi daring. Selain mengatur tentang tombol skip, regulasi ini juga membatasi durasi maksimal iklan agar tidak mendominasi konten utama. Bagi para kreator konten dan pengiklan, ini tentu menjadi tantangan baru untuk menciptakan promosi yang lebih kreatif dan memikat dalam lima detik pertama, alih-alih mengandalkan durasi panjang yang membosankan.

Bagi kita yang berada di luar Vietnam, kebijakan ini memunculkan sebuah harapan besar. Jika sebuah negara tetangga di Asia Tenggara mampu menekan raksasa teknologi untuk lebih menghargai waktu penggunanya, bukan tidak mungkin standar serupa akan diadopsi oleh negara-negara lain, termasuk Indonesia. Pada akhirnya, kenyamanan pengguna dan etika beriklan harus berjalan beriringan agar ekosistem digital tetap sehat dan menyenangkan bagi semua pihak.