sikoracerestia.com - アニメ愛好家の皆さん、こんにちは! Melihat seseorang merayakan ulang tahun karakter fiksi, membawa boneka karakter saat bepergian, atau menyebut karakter anime sebagai "istri" (Waifu) atau "suami" (Husbando) mungkin terlihat membingungkan. Bagaimana mungkin seseorang menaruh hati pada kumpulan piksel dan tinta digital yang tidak nyata?

Namun, fenomena ini bukanlah anomali, melainkan evolusi dari cara manusia berinteraksi dengan cerita. Jika di masa lalu pembaca menangisi nasib Adi dan Mei, di era digital ini, keterikatan tersebut bermanifestasi dalam bentuk visual dan interaktif yang jauh lebih kuat melalui anime.

Disclaimer: Artikel ini tidak hadir untuk menghakimi. Sebaliknya, kita akan menyelam ke dalam mekanisme otak manusia untuk memahami mengapa waifu culture dan keterikatan pada karakter 2D adalah hal yang sangat manusiawi, bahkan bisa dijelaskan.

Konsep yang harus kita pahami adalah Hubungan Parasosial (Parasocial Interaction). Istilah yang dicetuskan oleh Donald Horton dan R. Richard Wohl pada tahun 1956 ini menggambarkan hubungan psikologis satu arah antara audiens dan tokoh media. Dalam konteks anime, penonton menghabiskan berjam-jam, bahkan bertahun-tahun seperti dalam seri One Piece atau Naruto, mengikuti perjalanan hidup sebuah karakter. Kita melihat mereka tumbuh, menderita, jatuh cinta, dan bangkit dari kegagalan.

Otak manusia, pada tingkat emosional dasar, tidak selalu membedakan secara tegas antara "teman yang kita lihat setiap hari" dan "karakter yang kita tonton setiap hari". Rasa empati yang muncul adalah nyata. Ketika karakter tersebut tersenyum kepada layar, otak melepaskan dopamin dan oksitosin hormon yang sama yang muncul saat kita berinteraksi dengan orang yang kita sayangi di dunia nyata. Inilah fondasi mengapa rasa sayang itu terasa valid.

Daya Tarik

Salah satu alasan terkuat mengapa karakter anime begitu memikat adalah Idealization atau idealisasi. Hubungan antarmanusia di dunia nyata itu rumit, penuh konflik, dan tidak terprediksi. Manusia bisa berkhianat, berbohong, atau berubah sikap.

Sebaliknya, karakter anime menawarkan ruang aman:

  • Konsistensi Karakter: Seorang karakter dengan sifat setia akan ditulis untuk selamanya setia. Karakter yang tsundere dingin di luar, hangat di dalam memiliki pola yang bisa diprediksi dan dipahami.

  • Ketiadaan Penolakan: Karakter 2D tidak bisa menolak cinta penggemarnya. Ini memberikan rasa kontrol dan keamanan emosional bagi individu yang mungkin memiliki kecemasan sosial atau trauma dalam hubungan nyata.

  • Estetika Supernormal: Dalam biologi evolusioner, ada istilah Supernormal Stimulus. Mata anime yang besar, proporsi tubuh yang ideal, dan ekspresi wajah yang hiper-ekspresif dirancang khusus untuk memicu respon "ingin melindungi" atau ketertarikan seksual yang lebih kuat daripada stimulus normal wajah manusia biasa.

 

Konsep "Moe"

Dalam budaya Jepang, ada istilah "Moe - 萌え" (dibaca: mo-eh). Meski sulit diterjemahkan secara harfiah, Moe merujuk pada perasaan kasih sayang yang membara, murni, dan seringkali muncul saat melihat karakter yang terlihat polos, rentan, atau membutuhkan perlindungan.

Para kreator anime adalah ahli dalam merancang karakter yang memicu Moe. Ketika seorang fans melihat karakter favoritnya sedang bersedih atau berusaha keras melakukan sesuatu yang ceroboh, insting pengasuhan (nurturing instinct) mereka aktif. Perasaan "aku ingin melihat dia bahagia" atau "aku ingin melindunginya" ini menciptakan ikatan emosional yang sangat dalam dan personal. Ini bukan sekadar nafsu, melainkan bentuk empati yang dimanipulasi secara artistik.

Orientasi Mengarah ke Fiksi

Bagi sebagian kecil komunitas, ketertarikan ini melangkah lebih jauh menuju spektrum Fictosexuality atau Fictoromance. Ini adalah istilah payung bagi individu yang merasakan ketertarikan seksual atau romantis secara eksklusif atau dominan terhadap karakter fiksi.

Penting untuk dipahami bahwa bagi banyak fictosexuals, mereka sadar sepenuhnya bahwa karakter tersebut tidak nyata. Mereka tidak mengalami delusi gangguan di mana seseorang tidak bisa membedakan kenyataan dan khayalan. Sebaliknya, mereka secara sadar memilih untuk mengarahkan energi romantis mereka ke media fiksi karena dianggap lebih memuaskan secara emosional atau lebih minim risiko dibandingkan hubungan dunia nyata.

Peran Narasi

Anime sering menggunakan protagonis yang relatable atau generik biasa disebut blank slate character dalam genre Harem atau Romance. Hal ini memungkinkan penonton untuk melakukan Self-Insert memproyeksikan diri mereka sendiri ke dalam posisi tokoh utama.

Ketika karakter heroine atau hero dalam anime tersebut jatuh cinta pada protagonis, secara psikologis, penonton merasa bahwa cinta itu ditujukan kepada mereka. Dialog-dialog manis yang diucapkan karakter seringkali dirancang dengan "kamera" yang menatap langsung ke penonton, meruntuhkan dinding keempat (breaking the fourth wall) secara emosional.

Merchandise sebagai Bahasa Cinta

Mengapa fans rela menghabiskan jutaan rupiah untuk action figure, poster, atau membuat Itabag (tas yang dipenuhi lencana karakter)? Dalam psikologi konsumen bisnis, ini adalah bentuk Materialisasi Emosi. Karena karakter tersebut tidak memiliki fisik yang bisa disentuh secara langsung, barang-barang merchandise menjadi jembatan fisik untuk menyalurkan rasa cinta tersebut. Bagi fans, membeli barang resmi adalah cara mereka memberi support/dukungan dan berterima kasih kepada kreator yang telah menghidupkan karakter tersebut. Dengan begini kreator atau studio akan semakin semangat dalam meracik karya seni mereka.

Sisi Gelap dan Terang

Seperti segala hal dalam hidup, ketertarikan ini memiliki dua sisi mata uang. Bagi banyak orang, karakter anime menjadi sumber inspirasi. Karakter yang pantang menyerah bisa memotivasi fans untuk belajar atau bekerja lebih keras. Kehadiran "pasangan imajiner" ini juga bisa mengurangi rasa kesepian akut (loneliness) dan memberikan stabilitas mental di masa-masa sulit.

Sisi Negatif nya adalah jika masalah muncul ketika terjadi Maladaptive Daydreaming atau eskapisme berlebihan. Jika ketertarikan pada dunia 2D membuat seseorang mengabaikan kebersihan diri, menarik diri sepenuhnya dari interaksi sosial nyata, berhenti bekerja/sekolah, atau kehilangan kemampuan berkomunikasi dengan manusia riil, maka hobi ini telah berubah menjadi hambatan psikologis.

Kita Harus Menghargai Imajinasi Manusia

Ketertarikan pada karakter anime, mulai dari sekadar kekaguman hingga perasaan cinta yang mendalam (Waifu/Husbando), adalah bukti betapa kuatnya otak manusia dalam berimajinasi dan berempati. Selama individu tersebut masih bisa membedakan antara fiksi dan realitas, serta tetap menjalankan fungsi sosialnya di dunia nyata, ketertarikan ini adalah hobi yang valid dan manusiawi. Karakter-karakter ini mungkin tidak memiliki detak jantung, tetapi perasaan yang mereka bangkitkan di hati para penggemarnya adalah 100% nyata.

Jadi, jika Anda merasa terhibur dan termotivasi oleh senyuman karakter 2D favorit Anda, tidak perlu merasa aneh. Anda hanya sedang menikmati salah satu bentuk seni bercerita paling modern di abad ini.

Sumber: https://hellosehat.com/mental/hubungan-harmonis/hubungan-parasosial/https://hellosehat.com/mental/hubungan-harmonis/hubungan-parasosial/https://id.wikipedia.org/wiki/Otakuhttps://www.indonesiana.id/read/160202/pengaruh-psikologis-dalam-setiap-genre-animehttps://medium.com/@amaliafritz11/anime-and-the-supernormal-stimulus-82cb6d81b58ehttps://www.reddit.com/r/AcademicPsychology/comments/sqs2gu/psychology_of_physical_attraction_towards/https://www.alodokter.com/mengenal-parasocial-relationship-hubungan-satu-sisi-dengan-idolahttps://en.wikipedia.org/wiki/Supernormal_stimulushttps://id.wikipedia.org/wiki/Moehttps://www.hipwee.com/list/yuk-mengenal-budaya-modern-moe-dan-tipe-tipenya/.

Sumber Thumbnail: Youtube Muse Indonesia