sikoracerestia.com - Indonesia, sebagai negara kepulauan terbesar di dunia yang terletak tepat di "pinggang" Bumi, memiliki iklim tropis yang unik. Meskipun dikelilingi oleh lautan luas dan memiliki suhu air laut yang ideal untuk pembentukan badai, faktanya wilayah utama Indonesia sangat jarang dilanda Siklon Tropis secara langsung. Fenomena ini bukanlah kebetulan, melainkan hasil dari perlindungan geografis alami yang diberikan oleh Garis Khatulistiwa atau Ekuator.
Peran Kunci Garis Khatulistiwa
Siklon Tropis atau yang biasa dikenal sebagai Badai, Topan, atau Hurikan di berbagai belahan dunia adalah sistem tekanan rendah raksasa yang terbentuk di atas lautan hangat, ditandai dengan angin kencang berputar yang mengelilingi pusat tenang atau yang disebut mata badai. Untuk dapat terbentuk dan bergerak, sistem ini mutlak memerlukan adanya Gaya Coriolis. Gaya ini dihasilkan dari rotasi Bumi dan berfungsi membelokkan arah angin serta memicu putaran spiral khas pada badai.
Namun, masalahnya, intensitas Gaya Coriolis menjadi nol (tidak ada) tepat di sepanjang Garis Khatulistiwa. Tanpa adanya gaya putar ini, badai tidak akan memiliki inisiasi putaran yang cukup untuk berkembang menjadi Siklon Tropis yang terorganisir. Inilah alasan mengapa hampir tidak ada Siklon Tropis yang pernah terdeteksi langsung melintasi wilayah yang berada di rentang 5° Lintang Utara hingga 5° Lintang Selatan (5°LU - 5°LS), yang notabene mencakup sebagian besar pulau-pulau besar Indonesia seperti Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.
Dampak Tidak Langsung
Meskipun wilayah utama Indonesia aman dari lintasan langsung badai, negara kita tetap menjadi tetangga yang rentan terhadap dampak tidak langsung. Siklon Tropis biasanya terbentuk di sekitar perbatasan zona aman Khatulistiwa, yaitu di Laut China Selatan di wilayah utara atau di sekitar perairan Laut Timor di wilayah selatan.
Ketika badai-badai ini muncul, meskipun jauh, pengaruhnya tetap terasa kuat di Indonesia. Dampak yang paling sering kita alami adalah peningkatan Intensitas Hujan yang ekstrem, terjadinya Gelombang Tinggi di perairan, dan Angin Kencang di wilayah pesisir, terutama di Nusa Tenggara, sebagian Jawa, dan Sumatera bagian barat. Dampak tidak langsung ini sering memicu banjir bandang dan tanah longsor. Contoh historis yang menonjol adalah Siklon Seroja pada tahun 2021 yang menyebabkan kerusakan parah di Nusa Tenggara Timur.

Gambar: Pengamatan Bibit Siklon Tropis 93S pada siaran pers BMKG tanggal 11 Desember 2025 | Sumber: Website Resmi BMKG
Ancaman di Era Perubahan Iklim
Sayangnya, perisai Khatulistiwa ini mulai menghadapi tantangan serius akibat Perubahan Iklim Global. Pemanasan global menyebabkan suhu permukaan laut terus meningkat, memperluas area lautan yang cukup hangat untuk mendukung pembentukan badai. Peningkatan suhu ini tidak hanya membuat badai lebih kuat, tetapi juga berpotensi mengubah jalur dan area pembentukannya.
Para ilmuwan memprediksi bahwa dengan terus meningkatnya suhu lautan, frekuensi dan intensitas badai di dekat wilayah 5° Lintang yaitu batas aman Indonesia kemungkinan akan meningkat di masa depan. Hal ini menuntut kesiapan lebih dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta pemerintah daerah untuk membangun sistem mitigasi bencana yang lebih baik, khususnya di wilayah Indonesia bagian selatan dan timur yang secara historis lebih sering menjadi pintu masuk dampak Siklon Tropis.
Sumber Gambar: https://www.bmkg.go.id/#cuaca-iklim-3