sikoracerestia.com - Bayangkan memiliki sebuah brankas berisi seluruh aset berharga, namun kuncinya diletakkan begitu saja di bawah keset pintu depan atau pot bunga. Sayangnya, itulah realitas yang terjadi di dunia maya saat ini. Jutaan akun digital diretas setiap tahunnya bukan karena peretasnya jenius, melainkan karena kunci yang digunakan terlalu lemah atau disimpan di tempat yang sangat mudah ditemukan seperti di notes Samsung yang sekarang bisa tersinkron dengan banyak perangkat hanya dengan 1 akun. Dalam era di mana identitas digital sama berharganya dengan identitas fisik, memahami cara membangun pertahanan pertama melalui kata sandi yang kuat adalah sebuah keharusan, bukan lagi pilihan. Keamanan siber dimulai dari kesadaran bahwa setiap karakter yang diketikkan sebagai sandi adalah tembok pemisah antara privasi pribadi dan kejahatan siber.
Baca Juga: POCO Pad M1 Tablet Android dengan Performa Snapdragon
Kesalahan terbesar yang sering dilakukan oleh banyak pengguna internet adalah terpaku pada kerumitan yang menyiksa ingatan, seperti mengganti huruf 'A' dengan '@' atau 'S' dengan '$'. Padahal, teknologi peretas masa kini sudah sangat pintar membaca pola substitusi tersebut. Strategi yang jauh lebih efektif adalah fokus pada panjang karakter. Sebuah kata sandi yang aman kini idealnya memiliki panjang minimal 12 hingga 15 karakter. Semakin panjang rangkaiannya, semakin lama waktu yang dibutuhkan mesin peretas untuk menebaknya melalui metode brute force. Alih-alih menggunakan satu kata dengan variasi simbol yang membingungkan, metode passphrase atau frasa sandi kini lebih disarankan. Teknik ini menggabungkan tiga atau empat kata acak yang tidak saling berhubungan atau tidak nyambung, misalnya "KopiTerbangMejaHijau". Kombinasi ini jauh lebih sulit ditebak oleh komputer dibandingkan "P@ssw0rd123", namun sangat mudah diingat oleh otak manusia.
Tantangan berikutnya setelah berhasil menciptakan sandi yang kuat adalah di mana harus menyimpannya. Otak manusia memiliki kapasitas terbatas, sehingga sering kali menggunakan satu password yang sama untuk semua akun. Ini adalah cara yang sangat berbahaya dalam literasi digital, jika satu situs bocor, maka seluruh kehidupan digital akan terancam karena semua kuncinya sama. Menulisnya di kertas tempel atau menyimpannya di aplikasi catatan di ponsel juga bukan solusi bijak karena risiko fisik dan pencurian data. Jawaban atas dilema ini adalah penggunaan pengelola kata sandi atau Password Manager Google pun sudah menyediakannya.
Pengelola kata sandi berfungsi sebagai brankas digital terenkripsi yang hanya membutuhkan satu kunci induk untuk membukanya. Dengan alat ini, pengguna tidak perlu lagi mengingat puluhan kombinasi rumit untuk setiap akun berbeda. Aplikasi ini akan secara otomatis menghasilkan sandi acak yang sangat panjang dan rumit saat mendaftar akun baru, lalu menyimpannya dengan aman. Tugas pengguna hanyalah mengingat satu Master Password yang sangat kuat. Selain itu, mengaktifkan fitur Autentikasi Dua Faktor (2FA) di setiap layanan yang menyediakannya akan memberikan lapisan keamanan ganda. Jika pun seseorang berhasil mengetahui kata sandi, mereka tetap tidak akan bisa masuk tanpa kode verifikasi yang dikirimkan ke perangkat pribadi menggunakan WA atau SMS.